
KEFAMENANU — Jurusan Teknik Lingkungan Universitas Islam Indonesia (UII) bersama NLR Indonesia menyelenggarakan Diseminasi Riset: “Dampak Perubahan Iklim pada Anak dan Remaja dengan Disabilitas dan Kusta di Indonesia”, secara hybrid (offline dan online) di Auditorium FTSP UII pada tanggal 12 Juni 2025.
Anak Disabilitas dan Penderita Kusta di TTU”>Suster Marcella menekankan bahwa perubahan iklim bukan hanya isu lingkungan, tapi juga krisis kemanusiaan yang memerlukan respons inklusif dan adil. Anak, remaja penyandang disabilitas dan eks-kusta menghadapi kerentanan berlapis, fisik, sosial, dan psikologis yang diperparah oleh stigma dan minimnya akses layanan dasar daerah.
Salah satu narasumber utama, Suster Maria Marcella PRR, Ketua Yayasan Sosial Ibu Anfrida Naob (YSIA) di TTU, menyoroti urgensi Keadilan Iklim bagi anak dan Remaja Disabilitas, terutama mereka yang pernah mengalami kusta.
Menurut Suster Marcella dan hasil survei tim riset, sejumlah dampak nyata di TTU mencakup infrastruktur rusak, kurangnya layanan dasar, terbatasnya akses sah (air bersih, pendidikan, kesehatan), serta isolasi sosial akibat stigma disabilitas dan kusta.
Adapun rekomendasi Paparan Suster Marcella PRR yaitu :
– Inklusi bermakna (melibatkan anak & remaja disabilitas dalam perencanaan aksi iklim)
– Aksesibilitas layanan dan teknologi adaptif (perbaikan infrastruktur dan teknologi inklusif)
– Kesadaran publik (kampanye agar masyarakat memahami kekuatan inklusi)
– Perlindungan sosial adaptif (dukungan mental dan sosial sesuai kebutuhan)
– Pembangunan kapasitas di desa (forum lokal dan keluarga sebagai ujung tombak inklusi).
– Perda disabilitas daerah (dorong regulasi daerah yang mendukung inklusi iklim).
Tentang Yayasan Sosial Ibu Anfrida
Yayasan Sosial Ibu Anfrida (YSIA) didirikan tahun 2006 di Desa Naob, mewarisi karya Gabriel Yohanes Wilhemus Manek, menyediakan rehabilitasi kusta, panti asuhan, serta layanan lansia.
YSIA mengusung visi, pelayanan kasih bebas stigma, diskriminasi, demi kesejahteraan penyandang disabilitas dan kusta.
Misi : Mengangkat harkat, membina masyarakat, meningkatkan rasa percaya diri, serta kasih terhadap anak terlantar, disabilitas dan kusta.
YSIA berkomitmen, memastikan kebijakan iklim melibatkan anak dan remaja disabilitas, meningkatkan akses layanan dasar dan teknologi adaptif, memperkuat forum desa dan kapasitas keluarga, menyediakan terapi berbasis masyarakat, mendorong penerbitan Perda disabilitas di daerah.
Menutup paparan, Suster Marcella PRR menyerukan, “Mari kita wujudkan kota dan kabupaten yang benar‑benar tangguh, adil, dan inklusif dimulai dari mendengar, menghargai dan bertindak bersama mereka yang paling rentan.”
Paparan Suster Marcella PRR dalam diseminasi riset ini menghadirkan sudut pandang akar rumput, memperkuat argumen bahwa keadilan iklim wajib inklusif, mengutamakan peran serta anak dan remaja disabilitas. (PRKN)